Aku berlari menaiki bukit itu. Sebuah kampung sunyi dikawasan Pariaman,
Sumatera Barat. Tidak ada hal spesial dari bukit itu, hanya jejeran
pohon pinus dan terkadang aku masih dapat melihat kancil sedang berlari
dengan bebasnya. Tapi tidak sesederhana itu untukku, walau aku masih
seorang pelajar laki-laki yang duduk dibangku SD.
Di bukit yang tinggi itu, aku biasa berlari dari bawah dengan
kencangnya. Kadang sengaja menjatuhkan diri ke hamparan rumput yang
basah oleh embun pagi atau air hujan, berguling-guling di bawah matahari
yang sinarnya menembus dedaunan yang rimbun. Dan tepat dipuncak dari
bukit itu, aku biasa duduk sembari menunggu pesawat terbang yang lewat.
Ya, hanya dari bukit itu aku bisa melihat pesawat yang melintas dengan
jelas. Apakah yang bisa aku perbuat? Aku hanya seorang anak dusun sepi
penduduk, yang bercita-cita suatu hari bisa mengemudikan burung besi
raksasa itu.
Dan bila matahari mulai terik, atau sekiranya Ibu mulai mencariku, aku
menuruni bukit itu, lagi-lagi dengan berlari, merentangkan tanganku
selebar-lebarnya, berteriak seakan akulah sang pilot. Menuruni bukit
dengan ringan seolah terbang, menutup mata dan mengeluarkan gumaman
pesawat sembari kembali merajut mimpi. Suatu hari aku harus bisa
mengemudikan pesawat.
Dan aku kembali menuruni bukit itu, merentangkan tanganku, lalu kembali kerumah.
---
Bukit itu sekarang hanyalah sebuah kenangan, dusunku yang sepi mulai
ramai oleh pembangunan. Bukitku dihancurkan, berganti menjadi beberapa
menara pembangkit listrik dan beberapa jajaran pertokoan serta ada
kompleks pemukiman baru disitu. Setidaknya itu yang terakhir aku lihat
ketika aku pulang kembali ke Pariaman beberapa bulan lalu. Sungguh
sebuah pembangunan yang sangat cepat untuk kategori dusun sepi pemduduk
seperti itu, tapi baguslah, setidaknya Ibu sekarang tidak terlalu
kesusahan ketika ingin mencari bahan pokok untuk Bapak dan adik-adik.
...
Ku kencangkan sabuk pengamanku pada deretan kursi bernomor 18D itu.
Memberikan sebaris kabar kepada gadis yang sudah kukenal sejak 8 bulan
yang lalu bahwa aku sudah di pesawat, mematikan ponsel yang aku bawa dan
mengambil majalah yang tersedia didepanku. Hanya sebuah majalah yang
berisi iklan dari layanan penerbangan yang aku tumpangi dan beberapa
tempat pariwisata di Indonesia. Masih larut aku dengan isinya, tiba-tiba
seorang bapak tua memberikan isyarat untuk masuk menempati kursi
disebelahku. Terpaksa aku buka kembali sabuk pengaman itu dan memberikan
jalan kepada bapak yang pipinya mulai keriput dan matanya mulai menjadi
abu-abu itu. Setelan celana bahan gaya lama dan kemeja serta kacamata
tebal juga alat bantu pendengaran yang terpasang di telinganya. Bapak
itu tersenyum, mengucapkan terima kasih dengan lembutnya dan duduk
disampingku.
Sekilas aku melihat, bapak tua itu memangku sebuah tas berukuran sedang,
berbahan dasar kulit berwarna coklat yang lusuh. Mengecek isinya,
kemudian menutupnya lagi dan kemudian duduk termangu memandang jendela
pesawat yang kami tumpangi. Tak lama setelah itu, pesawat kami tinggal
landas, dan kami diselimuti keheningan, selain pramugari yang mulai
datang menawarkan minuman.
"Mau kemana, Nak?" Bapak itu bertanya kepadaku, aku tau itu hanya sebuah
basa basi untuk mencairkan suasana di penerbangan yang memakan waktu
setidaknya 1 jam 15 menit ini, karena bapak itu pasti tau tujuanku
adalah kota Padang, sama seperti dirinya.
"Kerumah orang tua, pak.. Bapak sendiri?" Aku menjawab pertanyaan bapak
tua itu. Belum sempat pertanyaanku dijawab, bapak itu membetulkan posisi
alat bantu pendengarannya dan mulai bercerita mengapa ia sampai terbang
ke Padang dengan kondisi sudah setua itu.
"Saya rindu istri dan tempat tinggal saya, anak muda.. Makanya saya
terbang jauh dari Jakarta untuk menemui beliau.. Sudah lama saya tidak
pulang dan menemui Ibu.." Aku hanya mengangguk, mendengarkan seorang
bapak berusia kurang lebih 65 tahun yang menceritakan kerinduannya yang
amat sangat kepada kampung halamannya dan orang yang dicintanya. Bapak
itu mengeluarkan beberapa postcard dari tasnya,kartu pos dari berbagai
negara. Menceritakan sejarah serta tulisan-tulisan ringan tentang cinta
yang tertulis dibalik kartu pos tua itu. Ah, surat cinta untuk istrinya
rupanya.
"Bapak dulu seorang pilot juga rupanya ya? Wah.." Aku terkagum dengan
keromantisan dan isi tulisan di balik kartu pos itu, betapa seorang
wanita yang sangat beruntung mendapatkan suami seperti beliau. Bapak itu
ku ketahui bernama Sudibjo, dengan istri yang biasa dipanggilnya si
pipi rona. Ah indahnya..
"Iya, Nak.. Dan saya biasa membeli sebuah kartu pos di negara tempat
saya singgah, menuliskan sebait dua bait kalimat untuk istri saya
dikampung, memastikan istri saya tidak lupa bahwa ada seorang pria yang
harus dinantinya. Jelek-jelek gini saya dulu gagah lho, Nak.."
Bapak itu berkelakar, aku berusaha tertawa dan masih memandangi setumpuk
kartu pos yang mulai usang dimakan usia itu.
"Saya juga ingin sekali jadi pilot pak waktu saya kecil. Namun banyak kendalanya, akhirnya ndak jadi pak.."
"Kuliah dimana kamu, anak muda?"
"Di ITB pak, ambil Teknik Kelautan.. Jauh ya pak? Dari yang ingin terbang ke angkasa, sekarang mempelajari lautan lepas.."
"Ah, kamu itu menyia-nyiakan mimpi, kenapa tidak berjuang saja meraih
mimpimu, Nak? Bagaimana dengan orang yang kamu cinta? Apa dia sedang
menunggumu di bandara?"
"Hmmm.. tidak pak, ia ada di Bandung.. dan saya tidak tau ia menunggu
saya kembali atau tidak.." Jawabku sekenanya, seketika otakku dipenuhi
oleh sosok seorang gadis manis berambut ikal dan berwajah sendu.
Juniorku dikampus walau berbeda fakultas, satu tahun dibawahku. Gadis
yang ku kenal ketika tak sengaja berpapasan dengannya di perpustakaan
kampus. Sosok yang santun dan ramah kepada semua orang. Dan aku yang
terlalu lugu untuk sekedar mengungkapkan kagum. Bodohnya..
"Nak, jadi kamu sudah menyia-nyiakan mimpi, mau dilanjutkan lagi
dengan menyia-nyiakan cinta? Belilah sebuah kartu pos, nak ketika sampai
di Padang. Tuliskan rasamu dan beri padanya.. Gadis yang pasti cantik
itu berhak tau apa yang kamu rasa, setidaknya ia layak tau bahwa ia diperjuangkan pria gagah sepertimu anak muda.."
Aku hanya mengangguk, menghormati seorang bapak tua yang memberi saran
yang dimata saya konyol. Bertatapan langsung dan mengutarakan cinta saja
tidak pasti diterima, apalagi melalui sebuah kartu pos bergambar rumah
gadang yang ku beli di kampung halamanku?
"Ah anak muda jaman sekarang, ditengah kemajuan teknologi, mereka kadang lupa memaknai goresan tangan sendiri.. Dikira ketikan dan tulisan tangan itu sama apa.."
Seolah mengerti apa yang ak rasa, bapak itu kembali berkelakar, membuat
saya mengambil jeda beberapa detik untuk sedikit berpikir. Peran
teknologi yang maju ini, apakah tidak terlalu kuno bagiku untuk
menuliskan surat cinta?
"Untuk apa bapak mengarsipkan semua ini?" Tanyaku membuka lagi
pembicaraan dengan bapak tua itu. Sembari meminum air putih yang
dibawanya, bapak itu menjawab yang membuatku tertegun dengan lumayan
lama..
"Nak, ketika ingatanmu dan orang yang kamu cinta terlalu rapuh untuk
kembali mengingat, tulisan ini akan mengingatkan kembali, bahwa kita
pernah saling mencinta. Ketika tubuh dan raga ini sudah termakan usia,
setidaknya, semua tulisan ini bisa menjadi cerita untuk diceritakan
kepada anak-cucu kita kelak, mereka bisa membaca kisah cinta orang
tuanya, sehingga mereka bisa memaknai cinta dengan lebih dalam, seperti
orang tuanya. Jadi ga ada istilah tu kawin-cerai kaya selebritis
sekarang itu, Nak.. Ah sudahlah anak muda, kamu masih belum mengerti
rupanya. Buat saya mah, tulisan tangan itu penting anak muda,
sama pentingnya dengan tulisan tanganmu yang berisi pernyataan cintamu
pada gadis impianmu itu.. Jika kamu tidak bilang, kamu tidak akan tau
jawabannya, Nak.. Jika ditolak, setidaknya, kamu tidak terbebani oleh
rasa penasaran, dan tulisan tanganmu akan selalu ia ingat kelak.."
Aku termangu, memikirkan sosok gadis yang ku tinggalkan di Bandung.
Berharap ia dapat tau apa yang aku rasa tanpa aku perlu ungkapkan
langsung. Ah, benar rasanya kata bapak ini, aku sudah melewatkan mimpiku
untuk menjadi pilot, rasanya aku harus mengejar mimpiku untuk bersama
dirinya kelak. Rasanya menuliskan sepatah dua patah kata cinta cukup,
semoga saja itu bisa membuatnya sadar akan keberadaanku dan membuka
pintu hatinya untukku. Semoga saja..
Aku mendengar pengumuman dari kabin pesawat bahwa pesawat akan segera
mendarat. Aku dan si bapak mulai mengencangkan sabuk pengaman, mengambil
posisi duduk tegap seperti yang diinstruksikan hingga pesawat sampai
kembali ke daratan. Aku membantu si bapak membawa tasnya yang mulai
memudar hingga keluar terminal, dan bertanya..
"Apa Ibu sudah menunggu bapak disana?"
Bapak itu tersenyum, menepuk bahuku dan berkata
"Si Pipi Rona sudah meninggal 10 tahun lalu, anak muda.."