Jumat, 20 April 2012

what about you ?

Wow.
what to say about you.
hmm. You make me smile.
You make me laugh.
You know everything about me.
We’re complete opposites.
but at the same time,
exactly alike.
and absolutely perfect for each other.
I cant describe it.
this feeling’s so true.
I think its called love?




 what about you, A?

GOODBYE , may God Be With You

From the day I met you,
I felt everything was new
waking up each morning with a smile
taking away the pain that i feel for a while…
but love seems not to be fair
because you hurt me and give me a tear
how I wish I didn’t met you
how I wish I never loved you
for loving you just means “goodbye”
I must go on with my life
and forget the wound i have inside
for I know time will come that this pain will subside
saying goodbye would be the best I guess
setting you free is maybe your happiness
but always remember this…
though you disappointed me so,
I’ll still always care of you
but saying “Goodbye” would be the best thing to do..

what is love ?

An illusion created in everyone’s minds,
Beliefs in its existence has forever caused pain and misery,
A drug that has no cure,because of the eternal pain it creates!
It brings different meanings to everyone,and the definitions for it never coincide,
Different hallucinations caused by this phenomena means that it’s never true.
It places conditions that should not exist for it to retain its true form,
But despite all the pain and depression it may cause,
Just for that short momentary feeling that you get when its at its best,
The feeling that wipes you away, and makes you feel like you are in seventh heaven,
No-one can live without it!

Ini adalah sebuah cerita tentang cinta.

Aku tidak pernah seterburu-buru ini. Aku menginjak pedal gas mobil berwarna silver itu dengan cepat, berharap aku cepat kembali ke kontrakan tempat ku tinggal dan menceritakan semua, tentang cerita mengenai cinta yang kudapat hari ini, dari seorang konsulen radiologiku.

Hari ini berjalan seperti biasa adanya. Aku yang datang dan kemudian membubuhkan tanda tangan dalam sebuah kertas absen kemudian sarapan dan bercengkrama sejenak bersama 2 orang temanku.

Konsulenku datang, datang dari universitas yang sama denganku, beliau adalah alumni Universitas Yarsi angkatan 86. Jika dihitung, anggaplah umur beliau hampir menginjak kepala 5. Bertubuh tinggi, tersenyum ramah ke arah kami bertiga. Mengajarkan kami untuk membaca hasil foto rontgen yang sudah tertumpuk tinggi di meja kerjanya. Hampir pukul 1 siang kami membaca semua foto rontgen, hingga beliau berujar kepadaku..
"Falla, sudah memiliki calon suami?" Aku hanya berada pada persimpangan antara menggeleng dan mengangguk. Bukan bermaksud menyembunyikan, aku hanya sedang tidak tertarik untuk berbicara lebih jauh mengenai kecintaanku terhadap pria yang sekarang ku kencani. Lalu beliau bertanya kembali, "Pacar kamu 1 Yarsi juga?" aku hanya menggeleng.

Beliau melanjutkan pekerjaannya kembali. Akupun kembali mencatat setiap omongan yang keluar dari mulut seorang dokter yang dimataku cukup berwibawa, walau perutnya sudah mulai membuncit. Sembari meminum teh kotak yang ada, beliau memulai ceritanya. Tentang sebuah cerita cinta dimasa kuliahnya bersama seorang wanita bernama Dokter Ima.

"Saya dulu punya pacar, kami biasa belajar bersama, pergi makan siang bersama diwarung Udin setiap hari, kami melakukan persaingan nilai dan saya selalu mengantarnya pulang. Tapi kami memutuskan berpisah tepat saat kami ingin menghadapi ujian negara karena sebuah komitmen. Kami pacaran 8 tahun, dek.."

Beliau memulai ceritanya dengan bola mata yang berputar keseluruh sudut ruang kecil di pojok Rumah Sakit itu. Aku menyimaknya, berharap aku mendapatkan sebuah akhir yang bahagia. Tapi anggapanku salah.

Tahun 1994 tepat sebelum ujian negara, Dokter spesialis saya melakukan pembicaraan serius terhadap Dokter Ima. (Dari cerita beliau, Dokter Ima adalah sosok perempuan manis yang ramah dan sangat cerdas. Menurut dokter saya pula, nilai yang didapatkan Dokter Ima selalu diatas beliau. Mereka sering bersaing, membagi tawa dan canda. Memberikan ejekan-ejekan cinta mengenai siapa yang mendapatkan nilai lebih tinggi di ujian yang sedang berlangsung).

Otakku merekam setiap dialog antar mereka yang diperankan oleh dokter spesialisku sendiri.
"Kita harus berbicara tentang sebuah komitmen. Jika di semester 1 kita berpacaran mungkin hanya karena sebuah nafsu, tapi sekarang saya harus mulai berfikir dewasa. Amanah Ibu saya agar saya mendapat istri yang bisa menjaga anak-anak. Dan saya adalah seorang pria, tidak mungkin saya yang mengalah. Maukah kamu tidak menjadi dokter spesialis dan hanya menjadi dokter umum dan menghabiskan sebagian besar hidupmu di rumah mengurus anak-anak?"

Dokter Ima menggeleng pasti, sembari memberikan pilihan hal lain selain mengambil spesialis kepada dokter spesialis saya. "Kamu bisa menjadi kepala dinas rumah sakit. Bekerja dibalik meja, kerja kantoran sebagai pengawai negeri sipil" Kata Dokter Ima kepada dokter spesialis radiologi saya. Dengan pasti pula, dokter spesialis saya menggeleng. "Saya pria. Sayapun punya mimpi. Dan saya tidak mau anak-anak saya terlantar tidak ada yang mengurus apabila saya dan kamu sama-sama sibuk."

"Sayapun memiliki mimpi.." Ujar dokter Ima.
dan mereka memutuskan untuk berpisah.
"Saya tidak akan menikah, sebelum kamu menikah, Ima.."

Sebelum berpisah, mereka telah sama-sama mendaftar ke Universitas Gadjah Mada. Tepat dihari keberangkatan dokter spesialis saya membatalkan kepergiannya dan membiarkan Dokter Ima berangkat sendiri tanpa Beliau. Dokter Ima marah besar terhadap konsulen saya. Tetapi, lagi-lagi, sebuah cerita dari Tuhan akan menuntun Dokter Ima ke jalan yang lain. Selama persiapan menembus Ujian Spesialis, dokter Ima berkenalan dengan seorang pria..... yang kemudian menjadi suaminya. Dan Dokter Ima berhasil diterima dalam program (yang kebetulan sama dengan Beliau). Spesialis Radiologi. Dan masa -masa setelah itu dilalui seperti biasa.

Dokter spesialis saya menceritakan cerita itu dengan pandangan mata yang lagi-lagi menerawang.
"Saya saat itu tidak menangis, tapi kalau bahasa anak sekarang galau, dek.. Saya galau sekali. Coba kamu bayangkan 8 tahun kita bersama dan putus hanya karena sebuah komitmen dalam penggapaian mimpi, lalu beberapa tahun kemudian saya bertemu dengan Ibu (;istrinya) lalu kami menikah. Dan semuanya berjalan lancar."

Tahun 2006. 16 tahun kemudian.
Dokter spesialis saya menghadiri sebuah konferensi nasional dokter spesialis radiologi se-Indonesia. Berjalan seperti biasa, lalu seketika waktu diseputar Beliau berhenti, melihat sosok cantik dan sangat ramah dikerumunan dokter yang berbaju putih.
"Mas.. Kamu datang juga?" Wanita itu menyapa kembali, setelah hampir 16 tahun tidak pernah bertemu. Dokter Ima duduk disebelah beliau, dan selama konferensi mereka tidak mendengarkan apa-apa selain sebuah cerita cinta nostalgia masa muda mereka.
Dokter Ima telah menyelesaikan studi S3 dibidang radiotherapy. Dokter spesialis sayapun merupakan sosok yang sangat sibuk. Bayangkan beliau keluar rumah jam 8 pagi dan baru sampai kembali dirumah minimal jam 11 malam. Begitupun dengan dokter Ima. Ada kelegaan didiri dokter spesialis saya tidak jadi menikahi sosok Dokter Ima, yang ternyata benar adanya, sangat sibuk dan pasti tidak akan mampu mengurus anak apabila suaminya juga bekerja sama sibuknya.
...

Dan pada akhir cerita mereka sama-sama mengakui, bahwa jauh dalam lubuk hati mereka yang terdalam......
Mereka tidak pernah saling melupakan. Bahkan setelah hampir 16 tahun dan memiliki putra yang sudah beranjak dewasa.

---

Sebelum konferensi ditahun 2006 itu selesai. Dokter spesialis saya sempat mengutarakan permintaannya yang terakhir kepada Dokter Ima. "Tolong, jangan temui saya lagi. Pura-puralah tidak kenal dengan saya. Karena setiap pertemuan saya dengan kamu itu membahayakan saya dan kamu. Kita akan sama-sama mencederai perasaan pasangan kita masing-masing"

Dokter Ima mengangguk.
Pertemuan kembali itu, setelah 16 tahun yang panjang tanpa pertemuan dan juga rajutan hidup baru berakhir sudah, pada sebuah perjanjian untuk tidak saling menemui.

....


Aku mengemudikan mobilku sembari berfikir,
"Cinta memang sebuah misteri, bahkan saat kita memutuskan untuk berjalan sendiri."

Seuntukmu IBU...

Siang hari itu, aku sedang duduk menonton televisi di ruang keluarga rumahku yang nyaman. Rumahku yang terkadang tercium harum sayur yang sedang dimasak, atau bau yang ditimbulkan dari minyak kayu putih yang Ibuku pakai. Aroma apapun yang sedang mengelilingi rumah selalu membuatku betah duduk termangu lama di ruang keluargaku.

Deretan sofa berwarna biru dan secangkir es kelapa saat itu, ketika Ibu menghampiri aku dan semua orang-orang yang kusayang diruangan itu. Aku dan kakak serta bayi berumur 6 bulan yang sedang digendong malaikat dalam hari-hariku. Ayah.

"Sini dulu, Mela.. Dek.." Suara Ibu menyadarkanku dari asiknya menonton Yuni Shara di televisi dan mencubit pipi bayi bulat berumur 6 bulan. Aku dan kakak serempak menoleh dan kemudian mendengarkan apa yang Ibu bicarakan.

"Mumpung kalian sedang kumpul, Ibu sama Ayah kemarin udah daftar di Yayasan Bunga Kamboja.."

Yayasan Bunga Kamboja? Sounds weird in my ear. I mean, awkward. 

"Ibu cuma ga mau nyusahin anak-anak aja waktu Ayah dan Ibu meninggal.. Iurannya itu 5,000 perminggu, jadi nanti kalau Ayah dan Ibu meninggal, kalian tinggal telfon aja Yayasan Bunga Kamboja ini biar nanti pemulasaraannya di selenggarakan sama mereka. Jadi kalian tidak perlu direpotkan dan panik."

............. And I am speechless.
When I wrote down this blog, my mom is 61 years old and my dad is 70 years old. Thank God, until I wrote this too they still healthy as well.

Rasanya waktu yang yang disediakan Tuhan mendadak ingin aku tarik kembali, ingin menikmati lagi ringannya langkah ketika bersanding dengan Ibu. Bergandengan tangan, merengek minta dibelikan Barbie keluaran terbaru atau menangis karena tidak mau memakan sayur. Ketika itu, aku sering bercengkrama betapa aku ingin menjadi pramugari atau dokter. Sambil terkantuk Ibu mendengarkan ceritaku, dan biasanya diakhiri oleh kami yang tertidur bersama menunggu Ayah yang pulang dari kantor.

Itu dulu, sekitar 10 hingga 15 tahun yang lalu.

Semenjak kesibukanku dan semakin banyaknya kegiatanku diluar, aku biasanya hanya meluangkan waktu kurang dari 2 jam untuk bercengkrama bersama Ibu. Pulang kegiatanku, badanku terlalu letih untuk sekedar bertanya kabar Ibu, yang tanpa kusadari sudah sangat ringkih dan tua. Hanya sekedar menyapa, cerita seadanya. Ketika ku menonton tivi, Ibu sering duduk disampingku, bertanya hal yang sebenarnya Ibu tidak mengerti seperti "Yuni Shara ini pemain film" Mungkin hanya ingin ngobrol denganku, entahlah.. Ibu suka seperti itu, membuka pertanyaan kepadaku lalu kemudian kami menikmati acara di televisi hingga Ibu terkantuk dan tertidur.

Walau aku sibuk dan jarang meluangkan waktu untuk Ibu, tetapi sentuhan spesial seorang Ibu tidak akan pernah hilang dirumah. Harum susu dipagi hari untukku, atau sekedar pertanyaan "Mau mandi air hangat atau air dingin?" Atau "ceramah singkat" menasehatiku untuk makan teratur dan tidak tinggal sholat. Teman Ibu dirumah memang hanya tinggal aku, semenjak aku koas dan harus tinggal mengontrak, hilanglah teman Ibu.

Sekarang apa yang bisa aku lakukan? aku sadar waktuku tak lagi panjang, mungkin tak sepanjang kalian yang meluangkan waktu membaca tulisanku.. Beruntunglah kalian yang masih memiliki orang tua yang masih dalam usia produktif. Karena akan tiba saatnya kalian akan diberikan silence moment oleh Tuhan untuk berfikir dan bertanya dalam hati.. "Apa yang sudah kuberikan kepada orang tua?"

Lucunya, banyak anak berfikir bahwa hal yang bisa membuat mereka senyum adalah pencapaian luar biasa di kehidupan bermasyarakat. Tapi yakinlah, bahwa sesungguh hal sederhana yang dibutuhkan semua Ibu didunia ini adalah waktu senggang disela-sela kesibukan anaknya. Luangkan waktu sejenak, dengan secangkir teh atau beberapa jam obrolan hangat.

Yah..
Kadang, orang tua terlalu takut untuk meminta....
meminta waktu anaknya untuk sekedar bercengkrama.

Aku ingin terbang

Aku berlari menaiki bukit itu. Sebuah kampung sunyi dikawasan Pariaman, Sumatera Barat. Tidak ada hal spesial dari bukit itu, hanya jejeran pohon pinus dan terkadang aku masih dapat melihat kancil sedang berlari dengan bebasnya. Tapi tidak sesederhana itu untukku, walau aku masih seorang pelajar laki-laki yang duduk dibangku SD.

Di bukit yang tinggi itu, aku biasa berlari dari bawah dengan kencangnya. Kadang sengaja menjatuhkan diri ke hamparan rumput yang basah oleh embun pagi atau air hujan, berguling-guling di bawah matahari yang sinarnya menembus dedaunan yang rimbun. Dan tepat dipuncak dari bukit itu, aku biasa duduk sembari menunggu pesawat terbang yang lewat. Ya, hanya dari bukit itu aku bisa melihat pesawat yang melintas dengan jelas. Apakah yang bisa aku perbuat? Aku hanya seorang anak dusun sepi penduduk, yang bercita-cita suatu hari bisa mengemudikan burung besi raksasa itu.

Dan bila matahari mulai terik, atau sekiranya Ibu mulai mencariku, aku menuruni bukit itu, lagi-lagi dengan berlari, merentangkan tanganku selebar-lebarnya, berteriak seakan akulah sang pilot. Menuruni bukit dengan ringan seolah terbang, menutup mata dan mengeluarkan gumaman pesawat sembari kembali merajut mimpi. Suatu hari aku harus bisa mengemudikan pesawat.

Dan aku kembali menuruni bukit itu, merentangkan tanganku, lalu kembali kerumah.

---

Bukit itu sekarang hanyalah sebuah kenangan, dusunku yang sepi mulai ramai oleh pembangunan. Bukitku dihancurkan, berganti menjadi beberapa menara pembangkit listrik dan beberapa jajaran pertokoan serta ada kompleks pemukiman baru disitu. Setidaknya itu yang terakhir aku lihat ketika aku pulang kembali ke Pariaman beberapa bulan lalu. Sungguh sebuah pembangunan yang sangat cepat untuk kategori dusun sepi pemduduk seperti itu, tapi baguslah, setidaknya Ibu sekarang tidak terlalu kesusahan ketika ingin mencari bahan pokok untuk Bapak dan adik-adik.

...

Ku kencangkan sabuk pengamanku pada deretan kursi bernomor 18D itu. Memberikan sebaris kabar kepada gadis yang sudah kukenal sejak 8 bulan yang lalu bahwa aku sudah di pesawat, mematikan ponsel yang aku bawa dan mengambil majalah yang tersedia didepanku. Hanya sebuah majalah yang berisi iklan dari layanan penerbangan yang aku tumpangi dan beberapa tempat pariwisata di Indonesia. Masih larut aku dengan isinya, tiba-tiba seorang bapak tua memberikan isyarat untuk masuk menempati kursi disebelahku. Terpaksa aku buka kembali sabuk pengaman itu dan memberikan jalan kepada bapak yang pipinya mulai keriput dan matanya mulai menjadi abu-abu itu. Setelan celana bahan gaya lama dan kemeja serta kacamata tebal juga alat bantu pendengaran yang terpasang di telinganya. Bapak itu tersenyum, mengucapkan terima kasih dengan lembutnya dan duduk disampingku.

Sekilas aku melihat, bapak tua itu memangku sebuah tas berukuran sedang, berbahan dasar kulit berwarna coklat yang lusuh. Mengecek isinya, kemudian menutupnya lagi dan kemudian duduk termangu memandang jendela pesawat yang kami tumpangi. Tak lama setelah itu, pesawat kami tinggal landas, dan kami diselimuti keheningan, selain pramugari yang mulai datang menawarkan minuman.

"Mau kemana, Nak?" Bapak itu bertanya kepadaku, aku tau itu hanya sebuah basa basi untuk mencairkan suasana di penerbangan yang memakan waktu setidaknya 1 jam 15 menit ini, karena bapak itu pasti tau tujuanku adalah kota Padang, sama seperti dirinya.

"Kerumah orang tua, pak.. Bapak sendiri?" Aku menjawab pertanyaan bapak tua itu. Belum sempat pertanyaanku dijawab, bapak itu membetulkan posisi alat bantu pendengarannya dan mulai bercerita mengapa ia sampai terbang ke Padang dengan kondisi sudah setua itu.

"Saya rindu istri dan tempat tinggal saya, anak muda.. Makanya saya terbang jauh dari Jakarta untuk menemui beliau.. Sudah lama saya tidak pulang dan menemui Ibu.." Aku hanya mengangguk, mendengarkan seorang bapak berusia kurang lebih 65 tahun yang menceritakan kerinduannya yang amat sangat kepada kampung halamannya dan orang yang dicintanya. Bapak itu mengeluarkan beberapa postcard dari tasnya,kartu pos dari berbagai negara. Menceritakan sejarah serta tulisan-tulisan ringan tentang cinta yang tertulis dibalik kartu pos tua itu. Ah, surat cinta untuk istrinya rupanya.

"Bapak dulu seorang pilot juga rupanya ya? Wah.." Aku terkagum dengan keromantisan dan isi tulisan di balik kartu pos itu, betapa seorang wanita yang sangat beruntung mendapatkan suami seperti beliau. Bapak itu ku ketahui bernama Sudibjo, dengan istri yang biasa dipanggilnya si pipi rona. Ah indahnya..

"Iya, Nak.. Dan saya biasa membeli sebuah kartu pos di negara tempat saya singgah, menuliskan sebait dua bait kalimat untuk istri saya dikampung, memastikan istri saya tidak lupa bahwa ada seorang pria yang harus dinantinya. Jelek-jelek gini saya dulu gagah lho, Nak.." Bapak itu berkelakar, aku berusaha tertawa dan masih memandangi setumpuk kartu pos yang mulai usang dimakan usia itu.

"Saya juga ingin sekali jadi pilot pak waktu saya kecil. Namun banyak kendalanya, akhirnya ndak jadi pak.."
"Kuliah dimana kamu, anak muda?"
"Di ITB pak, ambil Teknik Kelautan.. Jauh ya pak? Dari yang ingin terbang ke angkasa, sekarang mempelajari lautan lepas.."
"Ah, kamu itu menyia-nyiakan mimpi, kenapa tidak berjuang saja meraih mimpimu, Nak? Bagaimana dengan orang yang kamu cinta? Apa dia sedang menunggumu di bandara?"
"Hmmm.. tidak pak, ia ada di Bandung.. dan saya tidak tau ia menunggu saya kembali atau tidak.." Jawabku sekenanya, seketika otakku dipenuhi oleh sosok seorang gadis manis berambut ikal dan berwajah sendu. Juniorku dikampus walau berbeda fakultas, satu tahun dibawahku. Gadis yang ku kenal ketika tak sengaja berpapasan dengannya di perpustakaan kampus. Sosok yang santun dan ramah kepada semua orang. Dan aku yang terlalu lugu untuk sekedar mengungkapkan kagum. Bodohnya..
"Nak, jadi kamu sudah menyia-nyiakan mimpi, mau dilanjutkan lagi dengan menyia-nyiakan cinta? Belilah sebuah kartu pos, nak ketika sampai di Padang. Tuliskan rasamu dan beri padanya.. Gadis yang pasti cantik itu berhak tau apa yang kamu rasa, setidaknya ia layak tau bahwa ia diperjuangkan pria gagah sepertimu anak muda.."

Aku hanya mengangguk, menghormati seorang bapak tua yang memberi saran yang dimata saya konyol. Bertatapan langsung dan mengutarakan cinta saja tidak pasti diterima, apalagi melalui sebuah kartu pos bergambar rumah gadang yang ku beli di kampung halamanku?

"Ah anak muda jaman sekarang, ditengah kemajuan teknologi, mereka kadang lupa memaknai goresan tangan sendiri.. Dikira ketikan dan tulisan tangan itu sama apa.." Seolah mengerti apa yang ak rasa, bapak itu kembali berkelakar, membuat saya mengambil jeda beberapa detik untuk sedikit berpikir. Peran teknologi yang maju ini, apakah tidak terlalu kuno bagiku untuk menuliskan surat cinta?

"Untuk apa bapak mengarsipkan semua ini?" Tanyaku membuka lagi pembicaraan dengan bapak tua itu. Sembari meminum air putih yang dibawanya, bapak itu menjawab yang membuatku tertegun dengan lumayan lama..
"Nak, ketika ingatanmu dan orang yang kamu cinta terlalu rapuh untuk kembali mengingat, tulisan ini akan mengingatkan kembali, bahwa kita pernah saling mencinta. Ketika tubuh dan raga ini sudah termakan usia, setidaknya, semua tulisan ini bisa menjadi cerita untuk diceritakan kepada anak-cucu kita kelak, mereka bisa membaca kisah cinta orang tuanya, sehingga mereka bisa memaknai cinta dengan lebih dalam, seperti orang tuanya. Jadi ga ada istilah tu kawin-cerai kaya selebritis sekarang itu, Nak.. Ah sudahlah anak muda, kamu masih belum mengerti rupanya. Buat saya mah, tulisan tangan itu penting anak muda, sama pentingnya dengan tulisan tanganmu yang berisi pernyataan cintamu pada gadis impianmu itu.. Jika kamu tidak bilang, kamu tidak akan tau jawabannya, Nak.. Jika ditolak, setidaknya, kamu tidak terbebani oleh rasa penasaran, dan tulisan tanganmu akan selalu ia ingat kelak.."

Aku termangu, memikirkan sosok gadis yang ku tinggalkan di Bandung. Berharap ia dapat tau apa yang aku rasa tanpa aku perlu ungkapkan langsung. Ah, benar rasanya kata bapak ini, aku sudah melewatkan mimpiku untuk menjadi pilot, rasanya aku harus mengejar mimpiku untuk bersama dirinya kelak. Rasanya menuliskan sepatah dua patah kata cinta cukup, semoga saja itu bisa membuatnya sadar akan keberadaanku dan membuka pintu hatinya untukku. Semoga saja..

Aku mendengar pengumuman dari kabin pesawat bahwa pesawat akan segera mendarat. Aku dan si bapak mulai mengencangkan sabuk pengaman, mengambil posisi duduk tegap seperti yang diinstruksikan hingga pesawat sampai kembali ke daratan. Aku membantu si bapak membawa tasnya yang mulai memudar hingga keluar terminal, dan bertanya..
"Apa Ibu sudah menunggu bapak disana?"
Bapak itu tersenyum, menepuk bahuku dan berkata
"Si Pipi Rona sudah meninggal 10 tahun lalu, anak muda.."

Sampaikan Rinduku Padanya

Wahai embun pagi, sampaikan rinduku padanya..
Sejukkan nafasnya, lepaskan sesaknya,
abadikan senyumnya, basahkan serat hidupnya.

Wahai burung camar, sampaikan rinduku padanya..
Nyanyikan dunianya, ceriakan parasnya,
Jagalah langkahnya, damaikan setiap geraknya.

Wahai bunga dan dedaunan, sampaikan rinduku padanya..
Indahkan kegiatannya, warnai lambaian tangannya,
Segarkan pikirannya, harumkan semua tutur katanya.

Wahai matahari, sampaikan rinduku padanya..
Terangi setiap letih nafasnya, hangatkan semua senyum dan tawanya,
Pancarkan aura wajahnya, panaskan kembali setiap letihnya.

Wahai senja yang memerah, sampaikan rinduku padanya..
Tenangkan pikirannya, lembutkan amarahnya,
Dinginkan emosinya, teduhkan semua tatapannya.

Wahai bulan dan bintang, sampaikan rinduku padanya..
Jagalah tidurnya, dekap semua letihnya.
Lepaskan masalahnya, selimuti malamnya..



Wahai Tuhan, sampaikan semua rinduku padanya..
Aku terlalu jauh untuk menggapainya, aku terlalu lemah untuk berlari.
Aku terlalu bodoh untuk berpura-pura, aku terlalu angkuh untuk mengakui..
Aku terlalu takut untuk bercerita, aku terlalu rendah untuk tidak berharap..

Tuhan, sampaikan rinduku padanya..
Melalui setiap penjagaanMu ditiap harinya.
Di tiap pagi, siang dan malamnya.
Di tiap kuasamu pada semua keputusannya.
Di tiap campur tanganmu di semua suka serta dukanya.

Sampaikan rinduku padanya,
amini doanya. Rengkuh semua mimpinya..

Aku hanya ingin melihat dirinya tersenyum untukku..
sekali lagi..

Kepada Kamu Yang Ku Cintai Dari Jauh

iarlah sayapnya menggenggammu erat dan membuatmu aman. Aku yakin, malaikat menyanyangi mereka yang mencintai tanpa syarat.

Jika suatu hari kamu kebingungan menentukan langkah, sedangkan aku terlalu fana untuk bisa kamu andalkan,
Yakinilah..
Apapun jalan yang kamu ambil, selama untuk kebaikan kita bersama, aku disini akan tetap tersenyum, memberika suntikan semangat melalui setiap permintaanku kepada Tuhanku.

Jika suatu hari kamu merasa semua yang kita jalani tanpa tujuan,
Ingatlah..
Kita pernah memutuskan untuk bersama, saling jatuh cinta dan berharap pada mimpi yang pernah kita bangun. Berkomitmen menjalani semua, dan saling menjaga segala rasa.

Jika suatu hari kamu ingin mengakhiri ini semua,
renungkanlah..
ada kelelahan yang tak dapat kita sembunyikan dalam menjalaninya, tapi akan ada penyesalan yang terukir pasti dan juga tenaga yang terkuras habis apabila suatu saat nanti kita memutuskan berjalan sendiri.

Jika suatu hari kamu lelah,
Percayalah..
Aku masih disini, di tempat kita biasa bertemu, menunggumu datang untuk kembali bercengkrama, walau sesudahnya ada episode baru bernama rindu yang lebih hebat.

Jika suatu hari kamu merasa dadamu hangat,
peganglah..
Itu doaku, agar kamu selalu merasa tenang. Tuhan sedang menyentuhmu, karena pintaku dalam sujudku.







Untuk kamu yang kucintai dari jauh..
bersabarlah..
Aku disini.. Masih ditempat yang sama,
dengan rindu yang menumpuk,
dan cinta yang tak kalah banyaknya..
Aku disini, menunggumu pulang.
Karena kamu, sudah kubuatkan rumah.
Didalam sini.
dalam hatiku, yang selalu tak pernah gagal untuk kamu sentuh.

Pulanglah