Minggu, 09 September 2012

A Thousand Years

A Thousand Years lyrics



(Verse 1)
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid
To fall
But watching you stand alone
All of my doubt
Suddenly goes away somehow

One step closer

(Chorus)
I have died everyday
waiting for you
Darlin' don't be afraid
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more

(Verse 2)
Time stands still
beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything 
Take away
What's standing in front of me
Every breath, 
Every hour has come to this

One step closer

(Chorus)
I have died everyday

Waiting for you

Darlin' don't be afraid
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a 
Thousand more

And all along I believed
I would find you
Time has brought
Your heart to me
I have loved you for a 
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more

One step closer
One step closer

(Chorus)
I have died everyday
Waiting for you
Darlin' don't be afraid,
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more

And all along I believed
I would find you
Time has brought 
Your heart to me
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a 
Thousand more

Jumat, 20 April 2012

what about you ?

Wow.
what to say about you.
hmm. You make me smile.
You make me laugh.
You know everything about me.
We’re complete opposites.
but at the same time,
exactly alike.
and absolutely perfect for each other.
I cant describe it.
this feeling’s so true.
I think its called love?




 what about you, A?

GOODBYE , may God Be With You

From the day I met you,
I felt everything was new
waking up each morning with a smile
taking away the pain that i feel for a while…
but love seems not to be fair
because you hurt me and give me a tear
how I wish I didn’t met you
how I wish I never loved you
for loving you just means “goodbye”
I must go on with my life
and forget the wound i have inside
for I know time will come that this pain will subside
saying goodbye would be the best I guess
setting you free is maybe your happiness
but always remember this…
though you disappointed me so,
I’ll still always care of you
but saying “Goodbye” would be the best thing to do..

what is love ?

An illusion created in everyone’s minds,
Beliefs in its existence has forever caused pain and misery,
A drug that has no cure,because of the eternal pain it creates!
It brings different meanings to everyone,and the definitions for it never coincide,
Different hallucinations caused by this phenomena means that it’s never true.
It places conditions that should not exist for it to retain its true form,
But despite all the pain and depression it may cause,
Just for that short momentary feeling that you get when its at its best,
The feeling that wipes you away, and makes you feel like you are in seventh heaven,
No-one can live without it!

Ini adalah sebuah cerita tentang cinta.

Aku tidak pernah seterburu-buru ini. Aku menginjak pedal gas mobil berwarna silver itu dengan cepat, berharap aku cepat kembali ke kontrakan tempat ku tinggal dan menceritakan semua, tentang cerita mengenai cinta yang kudapat hari ini, dari seorang konsulen radiologiku.

Hari ini berjalan seperti biasa adanya. Aku yang datang dan kemudian membubuhkan tanda tangan dalam sebuah kertas absen kemudian sarapan dan bercengkrama sejenak bersama 2 orang temanku.

Konsulenku datang, datang dari universitas yang sama denganku, beliau adalah alumni Universitas Yarsi angkatan 86. Jika dihitung, anggaplah umur beliau hampir menginjak kepala 5. Bertubuh tinggi, tersenyum ramah ke arah kami bertiga. Mengajarkan kami untuk membaca hasil foto rontgen yang sudah tertumpuk tinggi di meja kerjanya. Hampir pukul 1 siang kami membaca semua foto rontgen, hingga beliau berujar kepadaku..
"Falla, sudah memiliki calon suami?" Aku hanya berada pada persimpangan antara menggeleng dan mengangguk. Bukan bermaksud menyembunyikan, aku hanya sedang tidak tertarik untuk berbicara lebih jauh mengenai kecintaanku terhadap pria yang sekarang ku kencani. Lalu beliau bertanya kembali, "Pacar kamu 1 Yarsi juga?" aku hanya menggeleng.

Beliau melanjutkan pekerjaannya kembali. Akupun kembali mencatat setiap omongan yang keluar dari mulut seorang dokter yang dimataku cukup berwibawa, walau perutnya sudah mulai membuncit. Sembari meminum teh kotak yang ada, beliau memulai ceritanya. Tentang sebuah cerita cinta dimasa kuliahnya bersama seorang wanita bernama Dokter Ima.

"Saya dulu punya pacar, kami biasa belajar bersama, pergi makan siang bersama diwarung Udin setiap hari, kami melakukan persaingan nilai dan saya selalu mengantarnya pulang. Tapi kami memutuskan berpisah tepat saat kami ingin menghadapi ujian negara karena sebuah komitmen. Kami pacaran 8 tahun, dek.."

Beliau memulai ceritanya dengan bola mata yang berputar keseluruh sudut ruang kecil di pojok Rumah Sakit itu. Aku menyimaknya, berharap aku mendapatkan sebuah akhir yang bahagia. Tapi anggapanku salah.

Tahun 1994 tepat sebelum ujian negara, Dokter spesialis saya melakukan pembicaraan serius terhadap Dokter Ima. (Dari cerita beliau, Dokter Ima adalah sosok perempuan manis yang ramah dan sangat cerdas. Menurut dokter saya pula, nilai yang didapatkan Dokter Ima selalu diatas beliau. Mereka sering bersaing, membagi tawa dan canda. Memberikan ejekan-ejekan cinta mengenai siapa yang mendapatkan nilai lebih tinggi di ujian yang sedang berlangsung).

Otakku merekam setiap dialog antar mereka yang diperankan oleh dokter spesialisku sendiri.
"Kita harus berbicara tentang sebuah komitmen. Jika di semester 1 kita berpacaran mungkin hanya karena sebuah nafsu, tapi sekarang saya harus mulai berfikir dewasa. Amanah Ibu saya agar saya mendapat istri yang bisa menjaga anak-anak. Dan saya adalah seorang pria, tidak mungkin saya yang mengalah. Maukah kamu tidak menjadi dokter spesialis dan hanya menjadi dokter umum dan menghabiskan sebagian besar hidupmu di rumah mengurus anak-anak?"

Dokter Ima menggeleng pasti, sembari memberikan pilihan hal lain selain mengambil spesialis kepada dokter spesialis saya. "Kamu bisa menjadi kepala dinas rumah sakit. Bekerja dibalik meja, kerja kantoran sebagai pengawai negeri sipil" Kata Dokter Ima kepada dokter spesialis radiologi saya. Dengan pasti pula, dokter spesialis saya menggeleng. "Saya pria. Sayapun punya mimpi. Dan saya tidak mau anak-anak saya terlantar tidak ada yang mengurus apabila saya dan kamu sama-sama sibuk."

"Sayapun memiliki mimpi.." Ujar dokter Ima.
dan mereka memutuskan untuk berpisah.
"Saya tidak akan menikah, sebelum kamu menikah, Ima.."

Sebelum berpisah, mereka telah sama-sama mendaftar ke Universitas Gadjah Mada. Tepat dihari keberangkatan dokter spesialis saya membatalkan kepergiannya dan membiarkan Dokter Ima berangkat sendiri tanpa Beliau. Dokter Ima marah besar terhadap konsulen saya. Tetapi, lagi-lagi, sebuah cerita dari Tuhan akan menuntun Dokter Ima ke jalan yang lain. Selama persiapan menembus Ujian Spesialis, dokter Ima berkenalan dengan seorang pria..... yang kemudian menjadi suaminya. Dan Dokter Ima berhasil diterima dalam program (yang kebetulan sama dengan Beliau). Spesialis Radiologi. Dan masa -masa setelah itu dilalui seperti biasa.

Dokter spesialis saya menceritakan cerita itu dengan pandangan mata yang lagi-lagi menerawang.
"Saya saat itu tidak menangis, tapi kalau bahasa anak sekarang galau, dek.. Saya galau sekali. Coba kamu bayangkan 8 tahun kita bersama dan putus hanya karena sebuah komitmen dalam penggapaian mimpi, lalu beberapa tahun kemudian saya bertemu dengan Ibu (;istrinya) lalu kami menikah. Dan semuanya berjalan lancar."

Tahun 2006. 16 tahun kemudian.
Dokter spesialis saya menghadiri sebuah konferensi nasional dokter spesialis radiologi se-Indonesia. Berjalan seperti biasa, lalu seketika waktu diseputar Beliau berhenti, melihat sosok cantik dan sangat ramah dikerumunan dokter yang berbaju putih.
"Mas.. Kamu datang juga?" Wanita itu menyapa kembali, setelah hampir 16 tahun tidak pernah bertemu. Dokter Ima duduk disebelah beliau, dan selama konferensi mereka tidak mendengarkan apa-apa selain sebuah cerita cinta nostalgia masa muda mereka.
Dokter Ima telah menyelesaikan studi S3 dibidang radiotherapy. Dokter spesialis sayapun merupakan sosok yang sangat sibuk. Bayangkan beliau keluar rumah jam 8 pagi dan baru sampai kembali dirumah minimal jam 11 malam. Begitupun dengan dokter Ima. Ada kelegaan didiri dokter spesialis saya tidak jadi menikahi sosok Dokter Ima, yang ternyata benar adanya, sangat sibuk dan pasti tidak akan mampu mengurus anak apabila suaminya juga bekerja sama sibuknya.
...

Dan pada akhir cerita mereka sama-sama mengakui, bahwa jauh dalam lubuk hati mereka yang terdalam......
Mereka tidak pernah saling melupakan. Bahkan setelah hampir 16 tahun dan memiliki putra yang sudah beranjak dewasa.

---

Sebelum konferensi ditahun 2006 itu selesai. Dokter spesialis saya sempat mengutarakan permintaannya yang terakhir kepada Dokter Ima. "Tolong, jangan temui saya lagi. Pura-puralah tidak kenal dengan saya. Karena setiap pertemuan saya dengan kamu itu membahayakan saya dan kamu. Kita akan sama-sama mencederai perasaan pasangan kita masing-masing"

Dokter Ima mengangguk.
Pertemuan kembali itu, setelah 16 tahun yang panjang tanpa pertemuan dan juga rajutan hidup baru berakhir sudah, pada sebuah perjanjian untuk tidak saling menemui.

....


Aku mengemudikan mobilku sembari berfikir,
"Cinta memang sebuah misteri, bahkan saat kita memutuskan untuk berjalan sendiri."

Seuntukmu IBU...

Siang hari itu, aku sedang duduk menonton televisi di ruang keluarga rumahku yang nyaman. Rumahku yang terkadang tercium harum sayur yang sedang dimasak, atau bau yang ditimbulkan dari minyak kayu putih yang Ibuku pakai. Aroma apapun yang sedang mengelilingi rumah selalu membuatku betah duduk termangu lama di ruang keluargaku.

Deretan sofa berwarna biru dan secangkir es kelapa saat itu, ketika Ibu menghampiri aku dan semua orang-orang yang kusayang diruangan itu. Aku dan kakak serta bayi berumur 6 bulan yang sedang digendong malaikat dalam hari-hariku. Ayah.

"Sini dulu, Mela.. Dek.." Suara Ibu menyadarkanku dari asiknya menonton Yuni Shara di televisi dan mencubit pipi bayi bulat berumur 6 bulan. Aku dan kakak serempak menoleh dan kemudian mendengarkan apa yang Ibu bicarakan.

"Mumpung kalian sedang kumpul, Ibu sama Ayah kemarin udah daftar di Yayasan Bunga Kamboja.."

Yayasan Bunga Kamboja? Sounds weird in my ear. I mean, awkward. 

"Ibu cuma ga mau nyusahin anak-anak aja waktu Ayah dan Ibu meninggal.. Iurannya itu 5,000 perminggu, jadi nanti kalau Ayah dan Ibu meninggal, kalian tinggal telfon aja Yayasan Bunga Kamboja ini biar nanti pemulasaraannya di selenggarakan sama mereka. Jadi kalian tidak perlu direpotkan dan panik."

............. And I am speechless.
When I wrote down this blog, my mom is 61 years old and my dad is 70 years old. Thank God, until I wrote this too they still healthy as well.

Rasanya waktu yang yang disediakan Tuhan mendadak ingin aku tarik kembali, ingin menikmati lagi ringannya langkah ketika bersanding dengan Ibu. Bergandengan tangan, merengek minta dibelikan Barbie keluaran terbaru atau menangis karena tidak mau memakan sayur. Ketika itu, aku sering bercengkrama betapa aku ingin menjadi pramugari atau dokter. Sambil terkantuk Ibu mendengarkan ceritaku, dan biasanya diakhiri oleh kami yang tertidur bersama menunggu Ayah yang pulang dari kantor.

Itu dulu, sekitar 10 hingga 15 tahun yang lalu.

Semenjak kesibukanku dan semakin banyaknya kegiatanku diluar, aku biasanya hanya meluangkan waktu kurang dari 2 jam untuk bercengkrama bersama Ibu. Pulang kegiatanku, badanku terlalu letih untuk sekedar bertanya kabar Ibu, yang tanpa kusadari sudah sangat ringkih dan tua. Hanya sekedar menyapa, cerita seadanya. Ketika ku menonton tivi, Ibu sering duduk disampingku, bertanya hal yang sebenarnya Ibu tidak mengerti seperti "Yuni Shara ini pemain film" Mungkin hanya ingin ngobrol denganku, entahlah.. Ibu suka seperti itu, membuka pertanyaan kepadaku lalu kemudian kami menikmati acara di televisi hingga Ibu terkantuk dan tertidur.

Walau aku sibuk dan jarang meluangkan waktu untuk Ibu, tetapi sentuhan spesial seorang Ibu tidak akan pernah hilang dirumah. Harum susu dipagi hari untukku, atau sekedar pertanyaan "Mau mandi air hangat atau air dingin?" Atau "ceramah singkat" menasehatiku untuk makan teratur dan tidak tinggal sholat. Teman Ibu dirumah memang hanya tinggal aku, semenjak aku koas dan harus tinggal mengontrak, hilanglah teman Ibu.

Sekarang apa yang bisa aku lakukan? aku sadar waktuku tak lagi panjang, mungkin tak sepanjang kalian yang meluangkan waktu membaca tulisanku.. Beruntunglah kalian yang masih memiliki orang tua yang masih dalam usia produktif. Karena akan tiba saatnya kalian akan diberikan silence moment oleh Tuhan untuk berfikir dan bertanya dalam hati.. "Apa yang sudah kuberikan kepada orang tua?"

Lucunya, banyak anak berfikir bahwa hal yang bisa membuat mereka senyum adalah pencapaian luar biasa di kehidupan bermasyarakat. Tapi yakinlah, bahwa sesungguh hal sederhana yang dibutuhkan semua Ibu didunia ini adalah waktu senggang disela-sela kesibukan anaknya. Luangkan waktu sejenak, dengan secangkir teh atau beberapa jam obrolan hangat.

Yah..
Kadang, orang tua terlalu takut untuk meminta....
meminta waktu anaknya untuk sekedar bercengkrama.